PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DALAM PEMETAAN INFRASTRUKTUR UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN MODOINDING, KABUPATEN MINAHASA SELATAN(STUDI KASUS PADA DESA MOKOBANG, WULURMAATUS, DAN PALELON)
Keywords:
pemetaan infrastruktur, kawasan agropolitan, Sistem Informasi GeografisAbstract
Kecamatan Modoinding merupakan salah satu sentra pertanian hortikultura dataran tinggi di Kabupaten Minahasa Selatan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan agropolitan. Pengembangan kawasan tersebut memerlukan dukungan data spasial yang akurat dan terintegrasi, khususnya mengenai tutupan lahan dan infrastruktur pertanian, agar perencanaan pembangunan dapat disusun sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat. Kegiatan Program Kemitraan pada Masyarakat [PKM] bertujuan memetakan tutupan lahan dan sebaran infrastruktur di Desa Mokobang, Desa Wulurmaatus, dan Desa Palelon Kecamatan Modoinding sebagai dasar pendukung pengembangan kawasan agropolitan Modoinding. Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif melalui studi dokumen, survei lapangan, pencatatan koordinat, dokumentasi visual, wawancara, diskusi kelompok terarah, pemetaan partisipatif, serta pengolahan data menggunakan Sistem Informasi Geografis [SIG] versi 10.8. Pemerintah desa, kelompok tani, masyarakat, mahasiswa dan tim pelaksana dilibatkan dalam proses identifikasi dan validasi data. Hasil kegiatan berupa peta administrasi, peta tutupan lahan, dan peta sebaran infrastruktur pada ketiga desa. Hasil pemetaan SIG menunjukkan bahwa Desa Mokobang memiliki wilayah pertanian yang luas dengan dukungan beberapa sumber mata air dan fasilitas sosial; Desa Wulurmaatus memiliki infrastruktur pertanian lebih beragam berupa sumber air pertanian, sistem irigasi, gudang penyimpanan, dan sarana distribusi hasil pertanian; sedangkan Desa Palelon memiliki kawasan permukiman yang relatif kompak serta fasilitas pemerintahan, pendidikan, kesehatan, dan peribadatan yang terkonsentrasi pada pusat desa. Temuan tersebut menunjukkan bahwa ketiga desa memiliki karakter dan fungsi yang berbeda, tetapi saling melengkapi dalam sistem kawasan agropolitan. Hasil pemetaan dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan pembangunan lebih terarah, partisipatif, dan berkelanjutan.
